SURVEY: Solo Cloth Diapering

by milispopokkain

Bulan Februari 2011 lalu, beberapa ibu di milis sempat berbagi tentang penanganan popok kain dalam kondisi tanpa ART dan tanpa mesin cuci, baik dalam term waktu aktual (saat ini) maupun masa lalu (saat mengalami kondisi tersebut).

Berikut ini rangkuman dari semua informasi yang masuk. Semoga berguna bagi ibu-ibu yang lain dengan kondisi yang sama. Cloth diapering is possible in any condition🙂

Terima kasih untuk 16 mommies yang sudah ikutan berbagi…

Salam popok kain,
Moderator
********
  • Total responden: 16 orang
  • HCD : Handwashing cloth diapers

GAMBARAN RESPONDEN

Berdasarkan usia bayi/anak
  • 56% responden HCD saat bayi berusia newborn-6 bulan. 44% dari ibu-ibu tersebut masih berlanjut HCD sampai range usia anak 6-12 bulan.

Berdasarkan jumlah popok kain yang dimiliki
  • 38% responden memiliki popok sejumlah 13-20 buah, 31% responden memiliki 1-12 buah popok dan persentase yang sama untuk yang memiliki popok kain sejumlah 21 buah ke atas.

Berdasarkan cara berpopok kain (Cloth diapering type)
  • 56% responden menerapkan full time cloth diapering dan beberapa di antaranya mixed dgn celana pop.

Berdasarkan jadwal pencucian popok
  • 75% responden memiliki jadwal pencucian sehari sekali.

Berdasarkan jenis popok kain yang dimiliki
  • Jenis popok yg digunakan, paling banyak adalah Pocket (32%), diikuti dengan AI2 (24%) dan AIO (17%). Sisanya Fitted, prefold, flat dan popok klasik bertali (tentunya dgn diaper cover).

Berdasarkan deterjen yang digunakan
  • Deterjen yg digunakan, paling banyak adalah Attack Clean Maximizer dan Cycles.

BAGAIMANA CARA PENANGANAN POPOK KOTOR SELAMA MENUNGGU PENCUCIAN

75% dari responden menerapkan metode dry pail, yaitu menyimpan popok kotor di dalam wadah (umumnya ember) tanpa air, alias tidak merendam. 19% responden menerapkan metode wet pail, yaitu merendam popok kotor, dan mereka sebelumnya membilas dulu popok dari feses dan urine bayi. Sisanya yaitu 6% (hanya satu responden) menerapkan metode gabungan antara keduanya dimana metode wet pail dilakukan hanya untuk insert.

Responden yang menerapkan dry pail ada yang membilas dulu feses & urine bayi sebelumnya (19%), membilas hanya bila terkena feses (25%) dan tidak membilas sama sekali (6%) – kondisi bayi newborn dan ASIX. Sisanya tidak memberikan informasi yang detail (25%).

APA KENDALA YANG DITEMUI

38% responden menyatakan bahwa mereka tidak menemukan masalah yang berarti dalam kondisi cloth diapering tanpa ART dan tanpa mesin cuci. Sementara sisanya menemukan beberapa masalah tidak tetap seperti masalah cuaca yang mempengaruhi lamanya pengeringan popok di jemuran serta masalah internal dalam diri mereka sendiri, antara lain perasaan malas dan lelah yang umumnya bisa diatasi dengan adanya bantuan dari pasangan. Ada pula masalah lainnya seperti masalah kualitas air yang tidak bagus dan perubahan popok kain yang terlihat kusam akibat pencucian tiap hari dengan tangan.

Kesimpulannya adalah berpopok kain tanpa ART dan tanpa mesin cuci (solo cloth diapering) bukanlah suatu hal yang rumit asalkan ada kemauan dan motivasi yang kuat, ditambah kegembiraan dan kecintaan dalam melakukannya. Terkadang ada kendala-kendala yang timbul di luar kuasa kita. Untuk itu kita perlu untuk melihat pengalamanan orang lain untuk memperoleh masukan dan dukungan dalam pelaksanaan solo cloth diapering ini.

* Dicopy & direvisi dari blog lama Milis Popok Kain per tanggal 15 Maret 2011

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: