Sharing Story: Pengalaman Berpopok Kain

by milispopokkain

Oleh: Dewi Pertama Sari

 

Saya mengenal popok kain sudah sejak dulu, yaitu popok tali biasa. Namun baru pertama mengenal popok kain modern 2,5 tahun yang lalu, ketika hamil pertama kali.

Awalnya ketika sedang hamil sekitar tujuh bulan, saya window shopping ke toko online yang menjual keperluan bayi. Waktu itu saya baru mengenal satu merk asal Cina, jadi saya sekaligus membeli enam buah. Ketika Naisha lahir, saya mencoba memakaikan popok modern tersebut, tapi ternyata masih terlalu kebesaran dan terlihat bulky. Ya jelas, popok yang saya beli kan popok one-sized. Akhirnya saya kembali ke popok tali😀. Saat Naisha usia dua bulan, popok tersebut saya coba pakaikan lagi, dan ternyata sudah muat dan enak dilihat. Sejak itu, saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang popok kain modern dan mencoba berbagai merk.

Dua tahun berlalu, saya ternyata sudah menjadi cloth diaper addict. Saya punya lebih dari 50 popok dan kebanyakan berbeda-beda merknya. Iya, saya sering penasaran kalau ada popok modern merk atau jenis baru. Dari popok buatan lokal, sampai popok import. Dari popok yang menggunakan kancing, sampai yang menggunakan velcro, dari model front snap, sampai side snap dan pull-upἀ. Dari yang menggunakan PUL, sampai fitted diaper. Semua tipe dan semua merk, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, tetap saja ada beberapa merk favorit saya, misalnya Bumgenius untuk popok import, atau Enphilia untuk popok lokal.

Selama menggunakan popok modern, saya tidak pernah mengalami kendala apapun. Urusan mencuci, mudah saja, saya cuci tangan dengan washingball. Saya juga tidak pernah mengalami ‘tidak cocok’ dengan suatu merk tertentu. Penyebabnya karena saya termasuk yang tidak rewel kalau popok bocor atau pesing, tinggal ganti popok saja kalau bocor atau pesing.

Saya cukup beruntung karena orang tua saya juga pro cloth diaper. Sehingga kalau sehari-hari Naisha saya titipkan ke orang tua saya, beliau tidak berkeberatan Naisha pake popok kain, asalkan sekali pipis langsung ganti karena orang tua saya BIG NO NO dengan bau pesing dan takut menjadi najis. Walapun kadang-kadang orang tua saya memakaikan disposable diaper jika mengajak Naisha pergi :p.

Sekarang, saya sudah tidak bereksperimen lagi dengan mencoba merk baru popok modern, selain karena sudah punya terlalu banyak, anak saya pun sudah waktunya lepas popok. Meskipun sudah dua tahun berpopok kain, semua popok saya masih kinclong, karena dicuci dan dirawat dengan cinta serta rotasi pemakaian yang lama (karena jumlah popoknya banyak). Rencananya sih akan diwariskan ke adiknya Naisha kelak. Hehe..

Mengenai penggunaan cloth diaper yang katanya membuat anak cepat lulus toilet training, saya sih tidak merasakannya ya. Anak saya termasuk yang cuek meskipun inner popoknya lembab. Tapi kira-kira sebulan lalu, waktu saya sudah tidak ada kewajiban ke kampus dan seharian di rumah saja, saya mencoba melepas popok Naisha seharian, kecuali tidur malam. Ternyata dalam waktu seminggu pun anak saya sudah berhasil lulus BAK di kamar mandi, bahkan ketika mengenakan popok pun, dia minta dilepas dan BAK ke kamar mandi. Walaupun masih ada 1 PR lagi nih buat saya, yaitu me’lulus’kan Naisha supaya mau BAB di kamar mandi. Hehe..😀

Image

 

 

* Terima kasih banyak, Mom Dewi! Happy cloth diapering ya…!

3 Comments to “Sharing Story: Pengalaman Berpopok Kain”

  1. mom Dewisari,
    Naisha lepas popoknya diganti pake apa waktu seminggu training itu? benar2 langsung full day dari pagi-malam?
    umur brp waktu itu…

    thanks ya

  2. jadi semakin tertarik memakai clodi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: