Archive for ‘Sharing’

21 June 2013

Yang tertinggal dari CDW 2013: Kesan dan Pesan

by milispopokkain

Seperti yang telah dipublikasikan sebelumnya bahwa para pemenang lomba foto Cloth Diaper Week (CDW) 2013 diminta untuk menuliskan kesan pesannya selama mengikuti CDW, maka berikut ini kami muat beberapa tulisan mereka:

Iswan B., Perancis

Tentunya dan sudah pasti saya senang mengikuti CDW karena memang sudah diniati benar-benar. Kalau tidak ya pasti saya tidak akan menyempatkan waktu untuk memotret si kecil  ber-clodi. Apalagi dengan menjadi salah satu pemenang, ya saya tambah senang juga. Plus mendapat hadiah.

Acara ini bagus sekali untuk mensosialisasikan clodi ke masyarakat. Yang tadinya tidak tahu menjadi tahu. Yang tadinya sudah tahu menjadi semakin tahu karena tergerak lagi untuk mencari tahu informasi lebih jauh tentang clodi.

Pasti ada banyak moms, ibus, bundas, mamas etc yang ketinggalan mengirim foto si kecil untuk mengikuti acara ini. Mudah-mudahan tahun depan, kalau diselenggarakan lagi, makin banyak lagi yang ikutan dan itu berarti pengguna clodi bertambah.

 Zulvina N.A, Mojokerto

Sebagai seorang ibu baru, saya mudah galau masalah perawatan terbaik bagi bayi saya, Zulhan. Lalu saya bergabung di @milispopokkain yang banyak membantu mengurangi kegalauan saya dalam penggunaan popok kain. Saya jadi banyak tahu tentang kebaikan popok kain dan bahayanya pospak. Apalagi adanya lomba foto CDW semakin meyakinkan saya bahwa banyak ibu-ibu cerdas yang memikirkan dampak jangka panjang penggunaan pospak sehingga lebih memilih popok kain. Dampak tersebut di antaranya adalah bahan kimia dalam pospak maupun limbah sampah pospak yang mencemari lingkungan. Menang di lomba foto CDW membuat saya merasa sebagai ibu cerdas yang keren. Meski hanya Juara Harapan 3. Terima kasih Milis Popok Kain. Happy Cloth Diapering!

PS. Beberapa tulisan para pemenang lainnya akan dijadikan artikel terpisah.

Advertisements
10 January 2013

Sharing Story: Pengalaman Berpopok Kain

by milispopokkain

Oleh: Dewi Pertama Sari

 

Saya mengenal popok kain sudah sejak dulu, yaitu popok tali biasa. Namun baru pertama mengenal popok kain modern 2,5 tahun yang lalu, ketika hamil pertama kali.

Awalnya ketika sedang hamil sekitar tujuh bulan, saya window shopping ke toko online yang menjual keperluan bayi. Waktu itu saya baru mengenal satu merk asal Cina, jadi saya sekaligus membeli enam buah. Ketika Naisha lahir, saya mencoba memakaikan popok modern tersebut, tapi ternyata masih terlalu kebesaran dan terlihat bulky. Ya jelas, popok yang saya beli kan popok one-sized. Akhirnya saya kembali ke popok tali :D. Saat Naisha usia dua bulan, popok tersebut saya coba pakaikan lagi, dan ternyata sudah muat dan enak dilihat. Sejak itu, saya mulai mencari tahu lebih banyak tentang popok kain modern dan mencoba berbagai merk.

Dua tahun berlalu, saya ternyata sudah menjadi cloth diaper addict. Saya punya lebih dari 50 popok dan kebanyakan berbeda-beda merknya. Iya, saya sering penasaran kalau ada popok modern merk atau jenis baru. Dari popok buatan lokal, sampai popok import. Dari popok yang menggunakan kancing, sampai yang menggunakan velcro, dari model front snap, sampai side snap dan pull-upἀ. Dari yang menggunakan PUL, sampai fitted diaper. Semua tipe dan semua merk, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian, tetap saja ada beberapa merk favorit saya, misalnya Bumgenius untuk popok import, atau Enphilia untuk popok lokal.

Selama menggunakan popok modern, saya tidak pernah mengalami kendala apapun. Urusan mencuci, mudah saja, saya cuci tangan dengan washingball. Saya juga tidak pernah mengalami ‘tidak cocok’ dengan suatu merk tertentu. Penyebabnya karena saya termasuk yang tidak rewel kalau popok bocor atau pesing, tinggal ganti popok saja kalau bocor atau pesing.

Saya cukup beruntung karena orang tua saya juga pro cloth diaper. Sehingga kalau sehari-hari Naisha saya titipkan ke orang tua saya, beliau tidak berkeberatan Naisha pake popok kain, asalkan sekali pipis langsung ganti karena orang tua saya BIG NO NO dengan bau pesing dan takut menjadi najis. Walapun kadang-kadang orang tua saya memakaikan disposable diaper jika mengajak Naisha pergi :p.

Sekarang, saya sudah tidak bereksperimen lagi dengan mencoba merk baru popok modern, selain karena sudah punya terlalu banyak, anak saya pun sudah waktunya lepas popok. Meskipun sudah dua tahun berpopok kain, semua popok saya masih kinclong, karena dicuci dan dirawat dengan cinta serta rotasi pemakaian yang lama (karena jumlah popoknya banyak). Rencananya sih akan diwariskan ke adiknya Naisha kelak. Hehe..

Mengenai penggunaan cloth diaper yang katanya membuat anak cepat lulus toilet training, saya sih tidak merasakannya ya. Anak saya termasuk yang cuek meskipun inner popoknya lembab. Tapi kira-kira sebulan lalu, waktu saya sudah tidak ada kewajiban ke kampus dan seharian di rumah saja, saya mencoba melepas popok Naisha seharian, kecuali tidur malam. Ternyata dalam waktu seminggu pun anak saya sudah berhasil lulus BAK di kamar mandi, bahkan ketika mengenakan popok pun, dia minta dilepas dan BAK ke kamar mandi. Walaupun masih ada 1 PR lagi nih buat saya, yaitu me’lulus’kan Naisha supaya mau BAB di kamar mandi. Hehe.. 😀

Image

 

 

* Terima kasih banyak, Mom Dewi! Happy cloth diapering ya…!